Bunda, saya ada sedikit cerita ya dan ini saya lihat sendiri. Semoga cerita ini bisa jadi koreksi untuk diri kita sendiri. Lebaran tahun ini saya pulang ke Padang. Disana masih ada keluarga dan kerabat. Selama disana saya sempat menginap di rumah saudara beberapa hari. Rumahnya masih agak pedalaman dan suasananya masih natural.

Ada rumah yang jaraknya dekat dari tempat saudara saya, rumah itu hanya ditempati seorang kakek. Istrinya sudah lebih dulu meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Setiap azan terdengar, si kakek berangkat ke masjid. Saya sering lihat kakek beli bahan makanan atau ke warung dan setelah kembali dari warung yang dibawa plastik hitam kecil berisi beberapa butir telur.

Sampai saat lebaran, saudara saya mengajak saya dan anak-anak untuk silaturahmi keliling. Salah satu yang saya datangi adalah rumah kakek itu. Saya heran tidak ada anak, saudara atau kerabat yang mendatangi rumahnya selain tetangga disekitar.

Setelah malam datang, saya penasaran. Menurut saya kakek ini ramah tapi wajahnya sering terlihat murung. Akhirnya saya tanya ke saudara saya dan saya baru tahu kalau si kakek sebenarnya punya 3 orang anak. Lalu kenapa sangat sepi rumahnya? Tidak ada anak dan cucu yang menemani di hari raya.

Ternyata, sewaktu muda si kakek adalah orang yang gagah dan banyak ditakuti. Kalau ada orang naik motor yang lewat depan rumahnya dan suara motornya berisik, bisa-bisa disiram pakai air seember.

Si kakek dulunya orang sibuk, karena terlalu sibuk ia tidak tahu istrinya sakit. Ada cairan di organ dalam dan ketahuan setelah kronis. Istrinya yang ibu rumah tangga sepertinya tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan suaminya. Entah karena apa tapi si kakek telat mengetahui istrinya sakit sampai akhirnya meninggal terlebih dulu.

Ketiga anaknya sudah tamat sekolah. Anak kedua memutuskan pindah ke Batam setelah ibunya meninggal dan sekarang sudah menikah dengan orang asli setempat. Anak pertamanya mengajak anak ketiganya untuk merantau di Jakarta dan kebetulan si bungsu ini diterima kuliah di kampus UI. Hingga kini anaknya tidak kembali kerumahnya.

Semestinya orangtua bisa menjadi guru bagi anak-anaknya. Bisa mencontohkan yang baik dan bisa memposisikan diri dengan baik. Kapan harus menjadi orangtua, kapan harus menjadi teman sehingga ada kedekatan dengan anak. Berbeda dengan yang si kakek tetapkan. Cara membesarkan anak-anak yang si kakek terapkan sangat keras sehingga ada trauma dan kecewa yang mendalam. Ada jarak antara orangtua dan anak. Kekecewaan itu disimpan dengan rapih di dalam hati ketiga anaknya.

Di hari tua si kakek hanya sendiri. Ia sudah mencoba ramah ke tetangga sekitar. Tetangga hanya seperlunya saja. Menurut saudara saya, si kakek masih beruntung karena bisa hidup dari uang pensiunnya meski jumlahnya sedikit. Hati saya teriris. Ini cerita seperti yang ada di sinetron. Mungkin kalau cerita di film, bisa dibuat happy ending supaya penontonnya senang. Tapi kalau dikehidupannya nyata, apa yang kita perbuat maka itulah yang kita dapat.

Saya ingat cerita ini setelah melihat fanpage Merries, di sana disebutkan:

“Seorang ayah yang baik juga harus bisa berperan sebagai guru. Guru itu berarti sumber pengetahuan bagi anak. Peran penting Ayah sebagai guru bukan hanya untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk memelihara rasa keingintahuan anak”.

Masa kecil anak tidak akan kembali dan waktu yang terlewat tidak bisa diputar kembali.

Dibaca 557 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page