Bunda Afriana, begitulah panggilan akrab sehari-harinya. Bunda afriana memiliki seorang anak yang bernama Fikri. Bunda bercerita bahwa ia sangat senang ketika fikri lahir ke dunia karena ia terlihat mungil, lucu, dan tampan layaknya bayi yang sedang lahir. Menurut cerita bunda Afriana, ia khawatir setelah beberapa minggu Fikri lahir, karena dia tidak pernah menangis dan hanya tidur setiap harinya. Pernah bunda sengaja menjatuhkan baskom ketika Fikri tidur tetapi dia tidak terbangun. Sehingga, dalam pikiran bunda muncul pikiran aneh bahwa anak bunda ada masalah dengan pendengarannya. Namun, semuanya bunda sangkal dengan menganggap Fikri baik-baik saja.

Cerita bunda Afriana berlanjut, ketika Fikri berumur setahun, dia sudah bisa menangis dengan kencang dan tak lagi menghabiskan waktunya dengan tidur. Tetapi dia berbeda dengan anak-anak lain karena tidak pernah menoleh jika dipanggil dan tidak pernah fokus jika melihat sesuatu. Saat itu, tingkah laku Fikri semakin meyakinkan bunda bahwa Fikri terkena autis. Oleh karena itu, bunda beserta suami membawa Fikri ke dokter dan memang benar dokter mendiagnosa bahwa anak kesayangan bunda menderita autis tetapi masih dalam tahap yang ringan. Mendengar vonis tersebut, bunda sempat down selama beberapa hari dan merasa tidak terima akan takdir.

cerita bunda

Namun, kesedihan bunda tidak berlangsung lama karena bunda sudah mulai bisa menerima. Menurut cerita bunda Afriana, bunda kembali berkonsultasi dengan dokter dan dokter pun menyarankan Fikri untuk melakukan terapi 4 kali dalam seminggu. Bunda juga membawanya ke tempat rehabilitasi Talitakum supaya Fikri bisa sembuh. Setiap harinya, bunda mengajari Fikri sesuai dengan metode yang dianjurkan pada saat terapi.

Bunda juga memberikan asupan makanan yang cukup dengan memberinya susu kedelai buatan bunda sendiri dan menyediakan makanan yang tanpa bumbu penyedap. Semua itu bunda lakukan agar Fikri cepat sembuh dari autis ringannya. Buah hasil bunda mulai nampak ketika Fikri masuk ke TK dan SD karena Fikri dapat membuat orang tuanya bangga dengan prestasi-prestasi yang mengesankan.

cerita bunda

Dari cerita bunda Afriana tersebut, anak autis tidak berhak diperlakukan berbeda dari anak-anak yang lain. Anak autis tetap harus mendapatkan perlakuan yang sama seperti anak-anak normal lainnya karena semua anak pasti mempunyai kelebihan masing-masing, termasuk anak autis. Tak ada yang membedakan antara anak normal dan anak autis. Jadi, buat para bunda tak usah minder jika mempunyai anak autis. Bun, anak adalah titipan Tuhan yang harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Jadi, berikan yang terbaik buat buah hati, niscaya semua yang bunda lakukan akan ada balasannya dari Yang Kuasa. Semoga cerita dari bunda Afriana ini dapat menginspirasi bunda-bunda lain untuk memberikan yang terbaik buat buah hatinya.

Dibaca 491 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page